Sabtu, 18 Juni 2011

Berlari

Aku berlari kencang
Menerobos angin, menyandung batu, lalu terjatuh
Seolah tak mengenal rasa lelah dan kesakitan
Aku menengadah kelangit, kembali berdiri, lalu kemudian berlari lagi

Seraya berlari, aku berharap bayanganku tertinggal dan kelelahan mengejar aku berlari
Aku tak ingin siapapun mendengar tangisan disela lariku
Yang kuinginkan hanyalah berlari
terus berlari, berlari, dan berlari

Aku tak punya tujuan
Namun aku juga tak ingin berhenti
Aku ingin terus berlalu
Berlari dan berpacu dengan dengan kecepatan dan waktu

Karena hanya dengan berlari, aku mampu membunuh waktuku, untuk sabar menunggumu.

Kita adalah ....

Puisi Gita Romadhona dan Wirawan Sukarso


kita adalah perjalanan panjang

di antara semak belukar dan jalan naik turun

kadang lelah dan ingin menyerah

tetapi, kita tahu,kita akan saling menunggu


kita adalah perjalanan panjang

batu terjal, hutan pinus, dan langit mendung

mungkin akan kita temui berkali-kali lagi

tetapi, kau tahu, tak akan pernah bosan jika bersamamu


kita adalah perjalanan panjang;

dengan takdirmu, ada dalam takdirku.

Selasa, 07 Juni 2011

Lelah

Aku lelah, tak ingin apa-apa, hanya ingin sebuah bahu lebar dan seseorang yang akan terus berkata semua akan baik-baik saja.

Aku lelah, bahkan tak ingin menangis, hanya ingin melihat senyuman tulus dan berkata menangislah jika kau lelah

Aku lelah, dengan beribu kata yang tercekat di kerongkongan, bahkan tak ingin bicara, hanya ingin seseorang yang mampu mendengar sekalipun tak sepatah kata yang aku ucapkan

Aku lelah…

Aku lelah, hanya lelah.

Minggu, 06 Maret 2011

....

Ya allah, aku tau seharusnya aku lebih bersyukur dan tidak banyak mengeluh seperti ini...

Tapi aku hanya lelah, hanya itu...

Sabtu, 29 Januari 2011

Ironis sang pemimpi

Aku adalah sang pemimpi.
Tukang mimpi yang mampu bermimpi setinggi-tingginya dengan imajinasi seliar-liarnya.
Menerobos batas, menciptakan jalan sendiri dengan segala impian itu.

Ironisnya, saat dimana harus mewujudkan impian dengan seorang teman hidup.
Aku beku. Mati rasa.
Bahkan sebelum memiliki, mimpi ini sudah berujung pada rasa kehilangan.

Senin, 09 Agustus 2010

Tukang mimpi yang takut untuk kembali bermimpi

Suatu malam diatas ketinggian sebuah bukit
Aku berdiri memandang kilatan lampu warna warni dibawah sana, mereka yang saling menyambar satu dan yang lain layaknya pesta kembang api
Aku tersenyum, lalu menoleh kesamping
Disampingku kulihat seorang lelaki bersender dimotor yang telah diparkirnya
Aku tatap matanya dari tempatku berdiri, kulihat banyak pantulan cahaya lampu disana
Indah, terang dan kemudian aku terdiam
Aku terdiam karena saat itu ia tersenyum
Senyuman terindah dengan deretan gigi yang sempurna dan lesung pipi yang menghiasi pipi kirinya membuatku sejenak lupa betapa indahnya kilatan lampu dibawah sana.
Senyuman lelaki ini ternyata jauh lebih indah...

Ia berjalan pelan mendekatiku, kemudian bertanya padaku
Pertanyaan kecil yang merupakan awal dari mimpi-mimpi kami
"apa kau ingin memiliki rumah disini?"
aku hanya memandangi wajahnya, kemudian ia berkata lagi
"karena tempat ini hanya kudatangi bersama mu, aku ingin suatu saat nanti aku memiliki rumah disini, bersamamu"
Aku tertawa, aku tak menjawab semua kata-katanya
Aku tertawa namun malamnya aku menulis semuanya disebuah buku kecil

2 tahun berlalu, saat aku membuka tulisan-tulisanku dibuku kecil itu
Aku kembali tertawa, namun bukan tawa yang sama
Tawa kali ini tawa yang seolah menertawakan diri sendiri
Bagaimana mungkin, entah bagaimana caranya, dan begitu cepat berlalu
Aku telah meninggalkan semua mimpi yang pernah ada itu, bahkan aku telah memiliki impian dengan orang lain setelah mimpi ini, namun juga hanya tinggal mimpi.
Aku mulai sadar saat hati tak pernah bisa dikompromi lagi, semua impian hanya tinggal sebagai sebuah angan-angan seperti mimpi dimalam hari, yg hari ini diingat kemudian besok dilupakan.

Sekarang aku duduk dilantai kamarku yang dingin...
Aku merasa takut untuk kembali bermimpi
Haruskah aku berhenti bermimpi?