Selasa, 22 Juni 2010

Memori abu-abu

Sore itu, diladang ilalang langit terlihat berwarna merah dengan semburat kekuningan
aku berjalan melewati ladang ilalang yang mulai menguning itu
di ujung ladang kulihat matahari melengkung dan berwarna merah, ia lelah
Ia lelah dan akan kembali keperaduannya sore itu.
Aku lalu menoleh kesamping kiri, kulihat burung gereja berkejaran diantara tembok-tembok pembatas rumah warga, riang dan berkicau dengan merdu.
Aku lantas melanjutkan perjalananku kembali, sendiri hanya ditemani oleh bisikan angin yang lewat disela-sela rambut yang kubiarkan tergerai begitu saja.
sore itu indah, namun sore itu adalah awal dari memori abu-abu ini

memori ini tadinya penuh warna, tidak hanya putih abu-abu seperti sekarang
memori ini tadinya menyimpan sejuta aura dan kekuatan warna didalamnya
memori ini tadinya disesaki dengan warna yang saling bertabrakan satu sama lain
Indah...

Namun sore itu, semburat jingganya mulai memudar
ke esokannya warna lain ikut pergi meninggalkan memori itu
Hingga tak ada lagi yang tersisa selain warna putih abu-abu ini

memori ini mulai kehilangan warnanya perlahan
memori ini mulai memudar seiring waktu
menjadi buram lalu kemudian menjadi sangat tersamar

Kini, tak banyak yang bisa dinikmati dari memori ini
memori ini telah kehilangan jiwanya, memori ini telah kehilangan warna-warnanya
Hanya hitam dan abu-abu yang kini terlihat disana
Terlihat biasa bahkan terkesan kusam

Namun, Setiap memori ini terlintas dipikiranku
aku selalu merasa, walau dengan keterbatasan warnanya
Sungguh "Memori ini tetap indah walau dengan bingkai putih abu-abunya"

Minggu, 13 Juni 2010

UTS TELAH TIBA!

Dear World...

Sekarang udah jam 12.03 malem, tapi gw belum ngantuk sama sekali. Parahnya besok UAS hari pertama. Dan rasanya pengen cepet-cepet kelar UAS, padahal ujiannya belum mulai sama sekali. hhhh... Entahlah. Kayanya masa-masa sekarang adalah titik puncak kemalasan gw, malas kuliah, malas belajar, malas mandi. Untuk pilihan terakhir kayanya udah dari dulu.

well...
Kemalasan gw semakin menjadi-jadi semenjak World Cup 2010 mulai tayang hari 3 hari lalu, udah aja makin males mikir. Dibanding sama belajar jelas banget gw lebih milih nonton Piala dunia, secara piala dunia cuma 4 tahun sekali sedangkan UAS setaun 2 kali. Oke oke... gw tau ini pemikiran yang cetek banget. Tapi siapa yang bisa ngebiarin Tim sama Pemain bola kesayangan lo maen tanpa ikut sumbang teriakan atau umpatan buat tim lawan, terkecuali gw diajak makan atau jalan sama pacar, dan kalau ngantuk banget banget (suporter bola labil).

Hmm... kayanya cukup sekian postingan kali ini, kayanya gw mesti mengharuskan diri baca-baca buat ujian besok.Semangattttssszzzzzz.

Kamis, 10 Juni 2010

sebuah janji kecil


Disuatu malam sehabis hujan, seorang laki-laki berdiri diantara pohon perdu yang rimbun...
Ia berdiri sambil tersenyum menatap kearah wanita yang disana, wanita berjaket merah. wanita itu sedang berjalan kearah berlawanan dari pohon perdu dan memunggungi sang pria hingga tertutup oleh rimbunnya daun-daun yang masih basah oleh air hujan. Wanita itu terus berjalan tanpa tahu seseorang sedang mengamatinya dengan sorot mata penuh kekhawatiran. Ia terus melangkah dan tak kala sang pria memanggil barulah ia sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh seseorang.

Saat berpaling dan mendapati lelaki yang dikenalnya berdiri dihadapannya dengan baju dan celana basah sang wanita merasa sedikit terkejut, lalu ia bertanya "apa yang membuatmu kemari, padahal malam ini baru saja hujan deras?"

Sang pria hanya tersenyum dan menatap wanita itu dalam-dalam
"tidak ada yang penting, aku hanya ingin menyampaikan sebuah janji"

Si wanita menarik alisnya menandakan kebingungan "Janji apa?" tanyanya kembali

"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apakah kau percaya dengan kehidupan sesudah kematian?" ujar sang lelaki.

Masih dengan ekspresi kebingungan sang wanita menjawab "memangnya kenapa? mengapa kau tiba-tiba berbicara tentang hal itu, aku masih tidak mengerti maksudmu"

"Semalam aku bermimpi, aku melihat kau begitu jauh dariku, hingga tak tergapai oleh tanganku sekalipun aku berlari sekencang-kencangnya untuk mengejarmu" jawab sang pria

"Ohh.. jadi hanya sebuah mimpi yang membuatmu kemari, sudahlah tak usah terlalu dirisaukan. kata orang mimpi hanya bunga tidur, jangan terlalu berlebihan" dengan nada santai sang wanita mencoba membuat prianya tenang.

"Tadinya aku juga berfikir demikian, namun aku kemudian tersadar akan sesuatu hal. Apa yang bisa aku lakukan jika aku ternyata tidak ditakdirkan untuk selalu mendampingimu?" ujar sang pria dengan kekhawatiran yang terpancar dari kedua bola mata cokelatnya.

Sang wanita kini tak menjawab lagi, kini pandangan keduanya tertuju pada pucuk-pucuk muda daun perdu yang masih basah, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Sang lelaki kemudian memandangi wanitanya, ditariknya kelingking tangan kanan wanita nya dan dikaitkan dengan kelingking kanannya, lalu sambil tersenyum ia berkata "Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama di dunia yang sekarang, maukah kau untuk tetap mengingatku dan bertemu kembali di kehidupan lain setelah kehidupan ini, saat itu kau adalah milikku dan takkan ada keadaan yang mampu menjauhkan aku darimu"

Sejenak tak ada kata-kata diantara keduanya, hanya sebuah tautan jari kelingking dan senyuman kecil yang mengisyaratkan keduanya telah membuat sebuah janji, janji kecil dyang akan terus diingat bahkan ketika jasad mereka telah terpisahkan dengan roh yang mengisi jiwa-jiwa hidup mereka saat itu.

Sebelum membalikkan badan dan mengucapkan selamat malam sang lelaki berkata lagi, dengan lantang dan tanpa keraguan ia berkata "kau boleh lupakan janji lain, tapi aku mohon jangan pernah lupakan janji kecil ini"

Dengan sebuah anggukan dan sambil tersenyum sang wanita menjawab, "janji ini juga berlaku untukmu, tapi tahukah kau... aku adalah milikmu bahkan jauh sebelum aku mengenalmu, jauh sebelum pertama kali aku melihatmu waktu itu. aku telah berjanji pada diriku sendiri dikehidupan manapun aku percaya suatu saat aku akan mendampingimu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, aku telah berjanji dan kau boleh memegang janji ini, ini janji seorang perempuan!"

Akhirnya malam itu berakhir, seminggu berlalu, sebulan terlewat, dan tahun terus silih berganti. Namun janji itu tetap ada, meski keduanya kini tak pernah bertatap lagi, tak pernah mendengar suara, tak pernah saling menyapa, tak pernah tahu tentang dunia masing-masing. janji itu masih tetap pada tempatnya tanpa tergeser oleh waktu atau apapun, janji kecil itu masih disana.

Janji tersebut masih disana ketika sebuah memori terlewat dipikiranku, ketika wanita tersebut berpaling kebelakang dengan butiran air matanya aku mendapati wajah wanita itu adalah wajah yang setiap hari kupandangi dikaca kamarku, wajah itu adalah wajahku. wajah itu masih menyimpan sebuah janji, secuil janji kecil namun butuh kekuatan yang besar untuk tetap meletakkannya pada sudut hati dan menyimpannya hingga kehidupan setelah kehidupan ini dimulai!