Suatu malam diatas ketinggian sebuah bukit
Aku berdiri memandang kilatan lampu warna warni dibawah sana, mereka yang saling menyambar satu dan yang lain layaknya pesta kembang api
Aku tersenyum, lalu menoleh kesamping
Disampingku kulihat seorang lelaki bersender dimotor yang telah diparkirnya
Aku tatap matanya dari tempatku berdiri, kulihat banyak pantulan cahaya lampu disana
Indah, terang dan kemudian aku terdiam
Aku terdiam karena saat itu ia tersenyum
Senyuman terindah dengan deretan gigi yang sempurna dan lesung pipi yang menghiasi pipi kirinya membuatku sejenak lupa betapa indahnya kilatan lampu dibawah sana.
Senyuman lelaki ini ternyata jauh lebih indah...
Ia berjalan pelan mendekatiku, kemudian bertanya padaku
Pertanyaan kecil yang merupakan awal dari mimpi-mimpi kami
"apa kau ingin memiliki rumah disini?"
aku hanya memandangi wajahnya, kemudian ia berkata lagi
"karena tempat ini hanya kudatangi bersama mu, aku ingin suatu saat nanti aku memiliki rumah disini, bersamamu"
Aku tertawa, aku tak menjawab semua kata-katanya
Aku tertawa namun malamnya aku menulis semuanya disebuah buku kecil
2 tahun berlalu, saat aku membuka tulisan-tulisanku dibuku kecil itu
Aku kembali tertawa, namun bukan tawa yang sama
Tawa kali ini tawa yang seolah menertawakan diri sendiri
Bagaimana mungkin, entah bagaimana caranya, dan begitu cepat berlalu
Aku telah meninggalkan semua mimpi yang pernah ada itu, bahkan aku telah memiliki impian dengan orang lain setelah mimpi ini, namun juga hanya tinggal mimpi.
Aku mulai sadar saat hati tak pernah bisa dikompromi lagi, semua impian hanya tinggal sebagai sebuah angan-angan seperti mimpi dimalam hari, yg hari ini diingat kemudian besok dilupakan.
Sekarang aku duduk dilantai kamarku yang dingin...
Aku merasa takut untuk kembali bermimpi
Haruskah aku berhenti bermimpi?
Senin, 09 Agustus 2010
Biarkan dan tinggalkan dalam kebekuan
Tutup saja hatiku, tutup saja tuhanku
Kumohon tutup saja pintunya
Tutup saja hingga orang terakhir yang akan membukanya
Tutup saja...
Biarkan esok aku terbangun dengan pintu yang telah terkunci
Lemparkan kunci pintu itu sejauh mungkin
Sejauh mungkin hingga ada orang yang menemukannya dan mengembalikannya padaku
Pagari hatiku dengan kawat besi yang kokoh ya tuhanku
Pagari ia hingga hanya yang terkuatlah yang hanya mampu melewatinya
Jadikan hatiku sekeras batu yang terkeras
Jadikan ia beku seperti halnya es dikutub terdingin
Jadikan ia layaknya baja yang ditempa ribuan kali disumber api yang terpanas
Biarkan ia sendiri disana
Tinggalkan dan biarkan
Biarkan hingga tak perlu ada kesakitan lagi
Kumohon tutup saja pintunya
Tutup saja hingga orang terakhir yang akan membukanya
Tutup saja...
Biarkan esok aku terbangun dengan pintu yang telah terkunci
Lemparkan kunci pintu itu sejauh mungkin
Sejauh mungkin hingga ada orang yang menemukannya dan mengembalikannya padaku
Pagari hatiku dengan kawat besi yang kokoh ya tuhanku
Pagari ia hingga hanya yang terkuatlah yang hanya mampu melewatinya
Jadikan hatiku sekeras batu yang terkeras
Jadikan ia beku seperti halnya es dikutub terdingin
Jadikan ia layaknya baja yang ditempa ribuan kali disumber api yang terpanas
Biarkan ia sendiri disana
Tinggalkan dan biarkan
Biarkan hingga tak perlu ada kesakitan lagi
Rabu, 04 Agustus 2010
Bersyukurlah
Bersyukurlah selagi kau masih bisa memeluk ayah dan ibu mu
Besyukurlah saat kau masih dalam pelukan mereka saat kau terlelap
Bersyukurlah saat kau dalam kesedihan dan kondisi terlelah ayah ibumu terus ada disampingmu untuk membelai lembut kepalamu.
Bersyukurlah temanku...
Bersyukurlah karena kau tak merasakan seperti yang kurasakan
Bersyukurlah untuk semua anugrah itu
Bersyukur karena ketika kau terbangun ditengah malam dan mendapati dirimu sendiri tanpa dampingan siapapun dikota besar ini, kau hanya akan mampu meringkuk disudut kamar sambil menahan genangan air mata ketakutanmu.
Bersyukurlah
Besyukurlah saat kau masih dalam pelukan mereka saat kau terlelap
Bersyukurlah saat kau dalam kesedihan dan kondisi terlelah ayah ibumu terus ada disampingmu untuk membelai lembut kepalamu.
Bersyukurlah temanku...
Bersyukurlah karena kau tak merasakan seperti yang kurasakan
Bersyukurlah untuk semua anugrah itu
Bersyukur karena ketika kau terbangun ditengah malam dan mendapati dirimu sendiri tanpa dampingan siapapun dikota besar ini, kau hanya akan mampu meringkuk disudut kamar sambil menahan genangan air mata ketakutanmu.
Bersyukurlah
Kamis, 29 Juli 2010
La Tahzan!
Saat Allah menjawab doa mu, Ia meminta imanmu
Saat Allah tidak menjawab doa mu, Ia meminta kesabaranmu
Dan saat Allah menjawab tapi bukan doa mu, Ia memilihkan yang terbaik untukmu
Saat Allah tidak menjawab doa mu, Ia meminta kesabaranmu
Dan saat Allah menjawab tapi bukan doa mu, Ia memilihkan yang terbaik untukmu
Selasa, 22 Juni 2010
Memori abu-abu
Sore itu, diladang ilalang langit terlihat berwarna merah dengan semburat kekuningan
aku berjalan melewati ladang ilalang yang mulai menguning itu
di ujung ladang kulihat matahari melengkung dan berwarna merah, ia lelah
Ia lelah dan akan kembali keperaduannya sore itu.
Aku lalu menoleh kesamping kiri, kulihat burung gereja berkejaran diantara tembok-tembok pembatas rumah warga, riang dan berkicau dengan merdu.
Aku lantas melanjutkan perjalananku kembali, sendiri hanya ditemani oleh bisikan angin yang lewat disela-sela rambut yang kubiarkan tergerai begitu saja.
sore itu indah, namun sore itu adalah awal dari memori abu-abu ini
memori ini tadinya penuh warna, tidak hanya putih abu-abu seperti sekarang
memori ini tadinya menyimpan sejuta aura dan kekuatan warna didalamnya
memori ini tadinya disesaki dengan warna yang saling bertabrakan satu sama lain
Indah...
Namun sore itu, semburat jingganya mulai memudar
ke esokannya warna lain ikut pergi meninggalkan memori itu
Hingga tak ada lagi yang tersisa selain warna putih abu-abu ini
memori ini mulai kehilangan warnanya perlahan
memori ini mulai memudar seiring waktu
menjadi buram lalu kemudian menjadi sangat tersamar
Kini, tak banyak yang bisa dinikmati dari memori ini
memori ini telah kehilangan jiwanya, memori ini telah kehilangan warna-warnanya
Hanya hitam dan abu-abu yang kini terlihat disana
Terlihat biasa bahkan terkesan kusam
Namun, Setiap memori ini terlintas dipikiranku
aku selalu merasa, walau dengan keterbatasan warnanya
Sungguh "Memori ini tetap indah walau dengan bingkai putih abu-abunya"
aku berjalan melewati ladang ilalang yang mulai menguning itu
di ujung ladang kulihat matahari melengkung dan berwarna merah, ia lelah
Ia lelah dan akan kembali keperaduannya sore itu.
Aku lalu menoleh kesamping kiri, kulihat burung gereja berkejaran diantara tembok-tembok pembatas rumah warga, riang dan berkicau dengan merdu.
Aku lantas melanjutkan perjalananku kembali, sendiri hanya ditemani oleh bisikan angin yang lewat disela-sela rambut yang kubiarkan tergerai begitu saja.
sore itu indah, namun sore itu adalah awal dari memori abu-abu ini
memori ini tadinya penuh warna, tidak hanya putih abu-abu seperti sekarang
memori ini tadinya menyimpan sejuta aura dan kekuatan warna didalamnya
memori ini tadinya disesaki dengan warna yang saling bertabrakan satu sama lain
Indah...
Namun sore itu, semburat jingganya mulai memudar
ke esokannya warna lain ikut pergi meninggalkan memori itu
Hingga tak ada lagi yang tersisa selain warna putih abu-abu ini
memori ini mulai kehilangan warnanya perlahan
memori ini mulai memudar seiring waktu
menjadi buram lalu kemudian menjadi sangat tersamar
Kini, tak banyak yang bisa dinikmati dari memori ini
memori ini telah kehilangan jiwanya, memori ini telah kehilangan warna-warnanya
Hanya hitam dan abu-abu yang kini terlihat disana
Terlihat biasa bahkan terkesan kusam
Namun, Setiap memori ini terlintas dipikiranku
aku selalu merasa, walau dengan keterbatasan warnanya
Sungguh "Memori ini tetap indah walau dengan bingkai putih abu-abunya"
Minggu, 13 Juni 2010
UTS TELAH TIBA!
Dear World...
Sekarang udah jam 12.03 malem, tapi gw belum ngantuk sama sekali. Parahnya besok UAS hari pertama. Dan rasanya pengen cepet-cepet kelar UAS, padahal ujiannya belum mulai sama sekali. hhhh... Entahlah. Kayanya masa-masa sekarang adalah titik puncak kemalasan gw, malas kuliah, malas belajar, malas mandi. Untuk pilihan terakhir kayanya udah dari dulu.
well...
Kemalasan gw semakin menjadi-jadi semenjak World Cup 2010 mulai tayang hari 3 hari lalu, udah aja makin males mikir. Dibanding sama belajar jelas banget gw lebih milih nonton Piala dunia, secara piala dunia cuma 4 tahun sekali sedangkan UAS setaun 2 kali. Oke oke... gw tau ini pemikiran yang cetek banget. Tapi siapa yang bisa ngebiarin Tim sama Pemain bola kesayangan lo maen tanpa ikut sumbang teriakan atau umpatan buat tim lawan, terkecuali gw diajak makan atau jalan sama pacar, dan kalau ngantuk banget banget (suporter bola labil).
Hmm... kayanya cukup sekian postingan kali ini, kayanya gw mesti mengharuskan diri baca-baca buat ujian besok.Semangattttssszzzzzz.
Sekarang udah jam 12.03 malem, tapi gw belum ngantuk sama sekali. Parahnya besok UAS hari pertama. Dan rasanya pengen cepet-cepet kelar UAS, padahal ujiannya belum mulai sama sekali. hhhh... Entahlah. Kayanya masa-masa sekarang adalah titik puncak kemalasan gw, malas kuliah, malas belajar, malas mandi. Untuk pilihan terakhir kayanya udah dari dulu.
well...
Kemalasan gw semakin menjadi-jadi semenjak World Cup 2010 mulai tayang hari 3 hari lalu, udah aja makin males mikir. Dibanding sama belajar jelas banget gw lebih milih nonton Piala dunia, secara piala dunia cuma 4 tahun sekali sedangkan UAS setaun 2 kali. Oke oke... gw tau ini pemikiran yang cetek banget. Tapi siapa yang bisa ngebiarin Tim sama Pemain bola kesayangan lo maen tanpa ikut sumbang teriakan atau umpatan buat tim lawan, terkecuali gw diajak makan atau jalan sama pacar, dan kalau ngantuk banget banget (suporter bola labil).
Hmm... kayanya cukup sekian postingan kali ini, kayanya gw mesti mengharuskan diri baca-baca buat ujian besok.Semangattttssszzzzzz.
Kamis, 10 Juni 2010
sebuah janji kecil
Disuatu malam sehabis hujan, seorang laki-laki berdiri diantara pohon perdu yang rimbun...
Ia berdiri sambil tersenyum menatap kearah wanita yang disana, wanita berjaket merah. wanita itu sedang berjalan kearah berlawanan dari pohon perdu dan memunggungi sang pria hingga tertutup oleh rimbunnya daun-daun yang masih basah oleh air hujan. Wanita itu terus berjalan tanpa tahu seseorang sedang mengamatinya dengan sorot mata penuh kekhawatiran. Ia terus melangkah dan tak kala sang pria memanggil barulah ia sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh seseorang.
Saat berpaling dan mendapati lelaki yang dikenalnya berdiri dihadapannya dengan baju dan celana basah sang wanita merasa sedikit terkejut, lalu ia bertanya "apa yang membuatmu kemari, padahal malam ini baru saja hujan deras?"
Sang pria hanya tersenyum dan menatap wanita itu dalam-dalam
"tidak ada yang penting, aku hanya ingin menyampaikan sebuah janji"
Si wanita menarik alisnya menandakan kebingungan "Janji apa?" tanyanya kembali
"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apakah kau percaya dengan kehidupan sesudah kematian?" ujar sang lelaki.
Masih dengan ekspresi kebingungan sang wanita menjawab "memangnya kenapa? mengapa kau tiba-tiba berbicara tentang hal itu, aku masih tidak mengerti maksudmu"
"Semalam aku bermimpi, aku melihat kau begitu jauh dariku, hingga tak tergapai oleh tanganku sekalipun aku berlari sekencang-kencangnya untuk mengejarmu" jawab sang pria
"Ohh.. jadi hanya sebuah mimpi yang membuatmu kemari, sudahlah tak usah terlalu dirisaukan. kata orang mimpi hanya bunga tidur, jangan terlalu berlebihan" dengan nada santai sang wanita mencoba membuat prianya tenang.
"Tadinya aku juga berfikir demikian, namun aku kemudian tersadar akan sesuatu hal. Apa yang bisa aku lakukan jika aku ternyata tidak ditakdirkan untuk selalu mendampingimu?" ujar sang pria dengan kekhawatiran yang terpancar dari kedua bola mata cokelatnya.
Sang wanita kini tak menjawab lagi, kini pandangan keduanya tertuju pada pucuk-pucuk muda daun perdu yang masih basah, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu.
Sang lelaki kemudian memandangi wanitanya, ditariknya kelingking tangan kanan wanita nya dan dikaitkan dengan kelingking kanannya, lalu sambil tersenyum ia berkata "Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama di dunia yang sekarang, maukah kau untuk tetap mengingatku dan bertemu kembali di kehidupan lain setelah kehidupan ini, saat itu kau adalah milikku dan takkan ada keadaan yang mampu menjauhkan aku darimu"
Sejenak tak ada kata-kata diantara keduanya, hanya sebuah tautan jari kelingking dan senyuman kecil yang mengisyaratkan keduanya telah membuat sebuah janji, janji kecil dyang akan terus diingat bahkan ketika jasad mereka telah terpisahkan dengan roh yang mengisi jiwa-jiwa hidup mereka saat itu.
Sebelum membalikkan badan dan mengucapkan selamat malam sang lelaki berkata lagi, dengan lantang dan tanpa keraguan ia berkata "kau boleh lupakan janji lain, tapi aku mohon jangan pernah lupakan janji kecil ini"
Dengan sebuah anggukan dan sambil tersenyum sang wanita menjawab, "janji ini juga berlaku untukmu, tapi tahukah kau... aku adalah milikmu bahkan jauh sebelum aku mengenalmu, jauh sebelum pertama kali aku melihatmu waktu itu. aku telah berjanji pada diriku sendiri dikehidupan manapun aku percaya suatu saat aku akan mendampingimu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, aku telah berjanji dan kau boleh memegang janji ini, ini janji seorang perempuan!"
Akhirnya malam itu berakhir, seminggu berlalu, sebulan terlewat, dan tahun terus silih berganti. Namun janji itu tetap ada, meski keduanya kini tak pernah bertatap lagi, tak pernah mendengar suara, tak pernah saling menyapa, tak pernah tahu tentang dunia masing-masing. janji itu masih tetap pada tempatnya tanpa tergeser oleh waktu atau apapun, janji kecil itu masih disana.
Janji tersebut masih disana ketika sebuah memori terlewat dipikiranku, ketika wanita tersebut berpaling kebelakang dengan butiran air matanya aku mendapati wajah wanita itu adalah wajah yang setiap hari kupandangi dikaca kamarku, wajah itu adalah wajahku. wajah itu masih menyimpan sebuah janji, secuil janji kecil namun butuh kekuatan yang besar untuk tetap meletakkannya pada sudut hati dan menyimpannya hingga kehidupan setelah kehidupan ini dimulai!
Ia berdiri sambil tersenyum menatap kearah wanita yang disana, wanita berjaket merah. wanita itu sedang berjalan kearah berlawanan dari pohon perdu dan memunggungi sang pria hingga tertutup oleh rimbunnya daun-daun yang masih basah oleh air hujan. Wanita itu terus berjalan tanpa tahu seseorang sedang mengamatinya dengan sorot mata penuh kekhawatiran. Ia terus melangkah dan tak kala sang pria memanggil barulah ia sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh seseorang.
Saat berpaling dan mendapati lelaki yang dikenalnya berdiri dihadapannya dengan baju dan celana basah sang wanita merasa sedikit terkejut, lalu ia bertanya "apa yang membuatmu kemari, padahal malam ini baru saja hujan deras?"
Sang pria hanya tersenyum dan menatap wanita itu dalam-dalam
"tidak ada yang penting, aku hanya ingin menyampaikan sebuah janji"
Si wanita menarik alisnya menandakan kebingungan "Janji apa?" tanyanya kembali
"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apakah kau percaya dengan kehidupan sesudah kematian?" ujar sang lelaki.
Masih dengan ekspresi kebingungan sang wanita menjawab "memangnya kenapa? mengapa kau tiba-tiba berbicara tentang hal itu, aku masih tidak mengerti maksudmu"
"Semalam aku bermimpi, aku melihat kau begitu jauh dariku, hingga tak tergapai oleh tanganku sekalipun aku berlari sekencang-kencangnya untuk mengejarmu" jawab sang pria
"Ohh.. jadi hanya sebuah mimpi yang membuatmu kemari, sudahlah tak usah terlalu dirisaukan. kata orang mimpi hanya bunga tidur, jangan terlalu berlebihan" dengan nada santai sang wanita mencoba membuat prianya tenang.
"Tadinya aku juga berfikir demikian, namun aku kemudian tersadar akan sesuatu hal. Apa yang bisa aku lakukan jika aku ternyata tidak ditakdirkan untuk selalu mendampingimu?" ujar sang pria dengan kekhawatiran yang terpancar dari kedua bola mata cokelatnya.
Sang wanita kini tak menjawab lagi, kini pandangan keduanya tertuju pada pucuk-pucuk muda daun perdu yang masih basah, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu.
Sang lelaki kemudian memandangi wanitanya, ditariknya kelingking tangan kanan wanita nya dan dikaitkan dengan kelingking kanannya, lalu sambil tersenyum ia berkata "Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama di dunia yang sekarang, maukah kau untuk tetap mengingatku dan bertemu kembali di kehidupan lain setelah kehidupan ini, saat itu kau adalah milikku dan takkan ada keadaan yang mampu menjauhkan aku darimu"
Sejenak tak ada kata-kata diantara keduanya, hanya sebuah tautan jari kelingking dan senyuman kecil yang mengisyaratkan keduanya telah membuat sebuah janji, janji kecil dyang akan terus diingat bahkan ketika jasad mereka telah terpisahkan dengan roh yang mengisi jiwa-jiwa hidup mereka saat itu.
Sebelum membalikkan badan dan mengucapkan selamat malam sang lelaki berkata lagi, dengan lantang dan tanpa keraguan ia berkata "kau boleh lupakan janji lain, tapi aku mohon jangan pernah lupakan janji kecil ini"
Dengan sebuah anggukan dan sambil tersenyum sang wanita menjawab, "janji ini juga berlaku untukmu, tapi tahukah kau... aku adalah milikmu bahkan jauh sebelum aku mengenalmu, jauh sebelum pertama kali aku melihatmu waktu itu. aku telah berjanji pada diriku sendiri dikehidupan manapun aku percaya suatu saat aku akan mendampingimu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, aku telah berjanji dan kau boleh memegang janji ini, ini janji seorang perempuan!"
Akhirnya malam itu berakhir, seminggu berlalu, sebulan terlewat, dan tahun terus silih berganti. Namun janji itu tetap ada, meski keduanya kini tak pernah bertatap lagi, tak pernah mendengar suara, tak pernah saling menyapa, tak pernah tahu tentang dunia masing-masing. janji itu masih tetap pada tempatnya tanpa tergeser oleh waktu atau apapun, janji kecil itu masih disana.
Janji tersebut masih disana ketika sebuah memori terlewat dipikiranku, ketika wanita tersebut berpaling kebelakang dengan butiran air matanya aku mendapati wajah wanita itu adalah wajah yang setiap hari kupandangi dikaca kamarku, wajah itu adalah wajahku. wajah itu masih menyimpan sebuah janji, secuil janji kecil namun butuh kekuatan yang besar untuk tetap meletakkannya pada sudut hati dan menyimpannya hingga kehidupan setelah kehidupan ini dimulai!
Minggu, 11 April 2010
UTS telah tiba
Besok pagi, eh hari ini (lupa kalo ternayata udah pagi dan ganti tanggal) akan berlangsung kompetisi mengarang indah diberbagai fakultas di kampus gw (baca: UTS). Gosipnya sih buat ujian besok bakalan open book, cuma belum ada kejelasan juga dari dosen yang bersangkutan. Jadinya gw masih santai-santai sekaligus ngeri sih, semoga beneran open book. Secara gw belajarnya gak bisa fokus lantaran tetangga kosan ada yang merried dan dangdutan sampe jam 12 malem.
Yang bikin gw pusing, mau UTS tapi jam segini mata gw masih seger buger kaya abis ngeliat cowok ganteng. Apa karna perut gw laper atau karna lagi sebel ama pacar, atau malah kolaborasi dari keduanya. Gak tau deh. Mood lagi jelek banget, panas aja bawaannya... yah, mungkin karna gw shio kuda kali yaa. Lah, apa hubungannya?.
Akhir kata...
Doa'in ya supaya UTS nya lancar-lancar aja!
Salam gaul dari Bu Admin
Yang bikin gw pusing, mau UTS tapi jam segini mata gw masih seger buger kaya abis ngeliat cowok ganteng. Apa karna perut gw laper atau karna lagi sebel ama pacar, atau malah kolaborasi dari keduanya. Gak tau deh. Mood lagi jelek banget, panas aja bawaannya... yah, mungkin karna gw shio kuda kali yaa. Lah, apa hubungannya?.
Akhir kata...
Doa'in ya supaya UTS nya lancar-lancar aja!
Salam gaul dari Bu Admin
Minggu, 28 Februari 2010
perjuanganku di mulai dihari senin!
SENIN. APA HARI SENIN? Hari senin datang lagi, entah kenapa hari ini selalu jadi momok bagi berbagai kalangan. Mulai dari orang kantoran, mahasiswa, sampe anak sekolah macem gue ini. Bukan cuma dianggap sebagai hari untuk balik ke aktifitas yang padat, hari senin juga adalah hari macet se-ibu kota Jakarte. Gw sendiri belum pernah ngalamin gimana macetnya hari senin, secara jarak kosan sama kampus deket, kepeleset nyampe istilahnya.
Tapi dari cerita temen-temen yang rumahnya jauh, perjalanan di hari senin pagi, amat sangat membutuhkan mental yang kuat serta jiwa yang sehat. Apasih
Buat gw sendiri, hari senin adalah awal yang menyenangkan, awal yang menyenangkan untuk dibantai oleh tugas kuliah setelah berleha-leha dihari minggu. Hehe
Btw, semester ini bakal jadi salah satu semester terberat yang akan gw hadapi sepanjang sejarah perkuliahan, selain karena full 24 sks dengan mata kuliah prasayarat skripsi yang bejubel sama tugas itu, gw juga mesti punya planning buat proposal skripsi dan apply magang untuk smester depan.
Tapi berat bukan berarti hambatan kan, seharusnya ini bisa menjadi acuan untuk jadi lebih baik dan lebih baik lagi, berat juga alasan untuk belajar lebih giat.
Mencoba menyemangati diri sendiri ceritanya.. hehehehehe
Dan pertarungan dengan smester ini gw tetepin mulai dari senin.
Happy monday all =)
Tapi dari cerita temen-temen yang rumahnya jauh, perjalanan di hari senin pagi, amat sangat membutuhkan mental yang kuat serta jiwa yang sehat. Apasih
Buat gw sendiri, hari senin adalah awal yang menyenangkan, awal yang menyenangkan untuk dibantai oleh tugas kuliah setelah berleha-leha dihari minggu. Hehe
Btw, semester ini bakal jadi salah satu semester terberat yang akan gw hadapi sepanjang sejarah perkuliahan, selain karena full 24 sks dengan mata kuliah prasayarat skripsi yang bejubel sama tugas itu, gw juga mesti punya planning buat proposal skripsi dan apply magang untuk smester depan.
Tapi berat bukan berarti hambatan kan, seharusnya ini bisa menjadi acuan untuk jadi lebih baik dan lebih baik lagi, berat juga alasan untuk belajar lebih giat.
Mencoba menyemangati diri sendiri ceritanya.. hehehehehe
Dan pertarungan dengan smester ini gw tetepin mulai dari senin.
Happy monday all =)
Langganan:
Postingan (Atom)