Sore itu, diladang ilalang langit terlihat berwarna merah dengan semburat kekuningan
aku berjalan melewati ladang ilalang yang mulai menguning itu
di ujung ladang kulihat matahari melengkung dan berwarna merah, ia lelah
Ia lelah dan akan kembali keperaduannya sore itu.
Aku lalu menoleh kesamping kiri, kulihat burung gereja berkejaran diantara tembok-tembok pembatas rumah warga, riang dan berkicau dengan merdu.
Aku lantas melanjutkan perjalananku kembali, sendiri hanya ditemani oleh bisikan angin yang lewat disela-sela rambut yang kubiarkan tergerai begitu saja.
sore itu indah, namun sore itu adalah awal dari memori abu-abu ini
memori ini tadinya penuh warna, tidak hanya putih abu-abu seperti sekarang
memori ini tadinya menyimpan sejuta aura dan kekuatan warna didalamnya
memori ini tadinya disesaki dengan warna yang saling bertabrakan satu sama lain
Indah...
Namun sore itu, semburat jingganya mulai memudar
ke esokannya warna lain ikut pergi meninggalkan memori itu
Hingga tak ada lagi yang tersisa selain warna putih abu-abu ini
memori ini mulai kehilangan warnanya perlahan
memori ini mulai memudar seiring waktu
menjadi buram lalu kemudian menjadi sangat tersamar
Kini, tak banyak yang bisa dinikmati dari memori ini
memori ini telah kehilangan jiwanya, memori ini telah kehilangan warna-warnanya
Hanya hitam dan abu-abu yang kini terlihat disana
Terlihat biasa bahkan terkesan kusam
Namun, Setiap memori ini terlintas dipikiranku
aku selalu merasa, walau dengan keterbatasan warnanya
Sungguh "Memori ini tetap indah walau dengan bingkai putih abu-abunya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar