Kamis, 10 Juni 2010

sebuah janji kecil


Disuatu malam sehabis hujan, seorang laki-laki berdiri diantara pohon perdu yang rimbun...
Ia berdiri sambil tersenyum menatap kearah wanita yang disana, wanita berjaket merah. wanita itu sedang berjalan kearah berlawanan dari pohon perdu dan memunggungi sang pria hingga tertutup oleh rimbunnya daun-daun yang masih basah oleh air hujan. Wanita itu terus berjalan tanpa tahu seseorang sedang mengamatinya dengan sorot mata penuh kekhawatiran. Ia terus melangkah dan tak kala sang pria memanggil barulah ia sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh seseorang.

Saat berpaling dan mendapati lelaki yang dikenalnya berdiri dihadapannya dengan baju dan celana basah sang wanita merasa sedikit terkejut, lalu ia bertanya "apa yang membuatmu kemari, padahal malam ini baru saja hujan deras?"

Sang pria hanya tersenyum dan menatap wanita itu dalam-dalam
"tidak ada yang penting, aku hanya ingin menyampaikan sebuah janji"

Si wanita menarik alisnya menandakan kebingungan "Janji apa?" tanyanya kembali

"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apakah kau percaya dengan kehidupan sesudah kematian?" ujar sang lelaki.

Masih dengan ekspresi kebingungan sang wanita menjawab "memangnya kenapa? mengapa kau tiba-tiba berbicara tentang hal itu, aku masih tidak mengerti maksudmu"

"Semalam aku bermimpi, aku melihat kau begitu jauh dariku, hingga tak tergapai oleh tanganku sekalipun aku berlari sekencang-kencangnya untuk mengejarmu" jawab sang pria

"Ohh.. jadi hanya sebuah mimpi yang membuatmu kemari, sudahlah tak usah terlalu dirisaukan. kata orang mimpi hanya bunga tidur, jangan terlalu berlebihan" dengan nada santai sang wanita mencoba membuat prianya tenang.

"Tadinya aku juga berfikir demikian, namun aku kemudian tersadar akan sesuatu hal. Apa yang bisa aku lakukan jika aku ternyata tidak ditakdirkan untuk selalu mendampingimu?" ujar sang pria dengan kekhawatiran yang terpancar dari kedua bola mata cokelatnya.

Sang wanita kini tak menjawab lagi, kini pandangan keduanya tertuju pada pucuk-pucuk muda daun perdu yang masih basah, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Sang lelaki kemudian memandangi wanitanya, ditariknya kelingking tangan kanan wanita nya dan dikaitkan dengan kelingking kanannya, lalu sambil tersenyum ia berkata "Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama di dunia yang sekarang, maukah kau untuk tetap mengingatku dan bertemu kembali di kehidupan lain setelah kehidupan ini, saat itu kau adalah milikku dan takkan ada keadaan yang mampu menjauhkan aku darimu"

Sejenak tak ada kata-kata diantara keduanya, hanya sebuah tautan jari kelingking dan senyuman kecil yang mengisyaratkan keduanya telah membuat sebuah janji, janji kecil dyang akan terus diingat bahkan ketika jasad mereka telah terpisahkan dengan roh yang mengisi jiwa-jiwa hidup mereka saat itu.

Sebelum membalikkan badan dan mengucapkan selamat malam sang lelaki berkata lagi, dengan lantang dan tanpa keraguan ia berkata "kau boleh lupakan janji lain, tapi aku mohon jangan pernah lupakan janji kecil ini"

Dengan sebuah anggukan dan sambil tersenyum sang wanita menjawab, "janji ini juga berlaku untukmu, tapi tahukah kau... aku adalah milikmu bahkan jauh sebelum aku mengenalmu, jauh sebelum pertama kali aku melihatmu waktu itu. aku telah berjanji pada diriku sendiri dikehidupan manapun aku percaya suatu saat aku akan mendampingimu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, aku telah berjanji dan kau boleh memegang janji ini, ini janji seorang perempuan!"

Akhirnya malam itu berakhir, seminggu berlalu, sebulan terlewat, dan tahun terus silih berganti. Namun janji itu tetap ada, meski keduanya kini tak pernah bertatap lagi, tak pernah mendengar suara, tak pernah saling menyapa, tak pernah tahu tentang dunia masing-masing. janji itu masih tetap pada tempatnya tanpa tergeser oleh waktu atau apapun, janji kecil itu masih disana.

Janji tersebut masih disana ketika sebuah memori terlewat dipikiranku, ketika wanita tersebut berpaling kebelakang dengan butiran air matanya aku mendapati wajah wanita itu adalah wajah yang setiap hari kupandangi dikaca kamarku, wajah itu adalah wajahku. wajah itu masih menyimpan sebuah janji, secuil janji kecil namun butuh kekuatan yang besar untuk tetap meletakkannya pada sudut hati dan menyimpannya hingga kehidupan setelah kehidupan ini dimulai!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar