Suatu malam diatas ketinggian sebuah bukit
Aku berdiri memandang kilatan lampu warna warni dibawah sana, mereka yang saling menyambar satu dan yang lain layaknya pesta kembang api
Aku tersenyum, lalu menoleh kesamping
Disampingku kulihat seorang lelaki bersender dimotor yang telah diparkirnya
Aku tatap matanya dari tempatku berdiri, kulihat banyak pantulan cahaya lampu disana
Indah, terang dan kemudian aku terdiam
Aku terdiam karena saat itu ia tersenyum
Senyuman terindah dengan deretan gigi yang sempurna dan lesung pipi yang menghiasi pipi kirinya membuatku sejenak lupa betapa indahnya kilatan lampu dibawah sana.
Senyuman lelaki ini ternyata jauh lebih indah...
Ia berjalan pelan mendekatiku, kemudian bertanya padaku
Pertanyaan kecil yang merupakan awal dari mimpi-mimpi kami
"apa kau ingin memiliki rumah disini?"
aku hanya memandangi wajahnya, kemudian ia berkata lagi
"karena tempat ini hanya kudatangi bersama mu, aku ingin suatu saat nanti aku memiliki rumah disini, bersamamu"
Aku tertawa, aku tak menjawab semua kata-katanya
Aku tertawa namun malamnya aku menulis semuanya disebuah buku kecil
2 tahun berlalu, saat aku membuka tulisan-tulisanku dibuku kecil itu
Aku kembali tertawa, namun bukan tawa yang sama
Tawa kali ini tawa yang seolah menertawakan diri sendiri
Bagaimana mungkin, entah bagaimana caranya, dan begitu cepat berlalu
Aku telah meninggalkan semua mimpi yang pernah ada itu, bahkan aku telah memiliki impian dengan orang lain setelah mimpi ini, namun juga hanya tinggal mimpi.
Aku mulai sadar saat hati tak pernah bisa dikompromi lagi, semua impian hanya tinggal sebagai sebuah angan-angan seperti mimpi dimalam hari, yg hari ini diingat kemudian besok dilupakan.
Sekarang aku duduk dilantai kamarku yang dingin...
Aku merasa takut untuk kembali bermimpi
Haruskah aku berhenti bermimpi?
Senin, 09 Agustus 2010
Biarkan dan tinggalkan dalam kebekuan
Tutup saja hatiku, tutup saja tuhanku
Kumohon tutup saja pintunya
Tutup saja hingga orang terakhir yang akan membukanya
Tutup saja...
Biarkan esok aku terbangun dengan pintu yang telah terkunci
Lemparkan kunci pintu itu sejauh mungkin
Sejauh mungkin hingga ada orang yang menemukannya dan mengembalikannya padaku
Pagari hatiku dengan kawat besi yang kokoh ya tuhanku
Pagari ia hingga hanya yang terkuatlah yang hanya mampu melewatinya
Jadikan hatiku sekeras batu yang terkeras
Jadikan ia beku seperti halnya es dikutub terdingin
Jadikan ia layaknya baja yang ditempa ribuan kali disumber api yang terpanas
Biarkan ia sendiri disana
Tinggalkan dan biarkan
Biarkan hingga tak perlu ada kesakitan lagi
Kumohon tutup saja pintunya
Tutup saja hingga orang terakhir yang akan membukanya
Tutup saja...
Biarkan esok aku terbangun dengan pintu yang telah terkunci
Lemparkan kunci pintu itu sejauh mungkin
Sejauh mungkin hingga ada orang yang menemukannya dan mengembalikannya padaku
Pagari hatiku dengan kawat besi yang kokoh ya tuhanku
Pagari ia hingga hanya yang terkuatlah yang hanya mampu melewatinya
Jadikan hatiku sekeras batu yang terkeras
Jadikan ia beku seperti halnya es dikutub terdingin
Jadikan ia layaknya baja yang ditempa ribuan kali disumber api yang terpanas
Biarkan ia sendiri disana
Tinggalkan dan biarkan
Biarkan hingga tak perlu ada kesakitan lagi
Rabu, 04 Agustus 2010
Bersyukurlah
Bersyukurlah selagi kau masih bisa memeluk ayah dan ibu mu
Besyukurlah saat kau masih dalam pelukan mereka saat kau terlelap
Bersyukurlah saat kau dalam kesedihan dan kondisi terlelah ayah ibumu terus ada disampingmu untuk membelai lembut kepalamu.
Bersyukurlah temanku...
Bersyukurlah karena kau tak merasakan seperti yang kurasakan
Bersyukurlah untuk semua anugrah itu
Bersyukur karena ketika kau terbangun ditengah malam dan mendapati dirimu sendiri tanpa dampingan siapapun dikota besar ini, kau hanya akan mampu meringkuk disudut kamar sambil menahan genangan air mata ketakutanmu.
Bersyukurlah
Besyukurlah saat kau masih dalam pelukan mereka saat kau terlelap
Bersyukurlah saat kau dalam kesedihan dan kondisi terlelah ayah ibumu terus ada disampingmu untuk membelai lembut kepalamu.
Bersyukurlah temanku...
Bersyukurlah karena kau tak merasakan seperti yang kurasakan
Bersyukurlah untuk semua anugrah itu
Bersyukur karena ketika kau terbangun ditengah malam dan mendapati dirimu sendiri tanpa dampingan siapapun dikota besar ini, kau hanya akan mampu meringkuk disudut kamar sambil menahan genangan air mata ketakutanmu.
Bersyukurlah
Langganan:
Postingan (Atom)