Tutup saja hatiku, tutup saja tuhanku
Kumohon tutup saja pintunya
Tutup saja hingga orang terakhir yang akan membukanya
Tutup saja...
Biarkan esok aku terbangun dengan pintu yang telah terkunci
Lemparkan kunci pintu itu sejauh mungkin
Sejauh mungkin hingga ada orang yang menemukannya dan mengembalikannya padaku
Pagari hatiku dengan kawat besi yang kokoh ya tuhanku
Pagari ia hingga hanya yang terkuatlah yang hanya mampu melewatinya
Jadikan hatiku sekeras batu yang terkeras
Jadikan ia beku seperti halnya es dikutub terdingin
Jadikan ia layaknya baja yang ditempa ribuan kali disumber api yang terpanas
Biarkan ia sendiri disana
Tinggalkan dan biarkan
Biarkan hingga tak perlu ada kesakitan lagi
Saya sungguh suka puisi ini. Jalinan kata yang indah, tertata manis, mengalir natural, jujur, dan tentunya dalam.. penuh makna. Terbersit kekecewaan di dalam sana, tapi di sisi lain menunjukkan ketegaran, kehendak untuk tetap bangkit dan menatap masa depan meski tahu masa depan belum tergambar sempurna dan kehidupan nampaknya masih diikuti bayang-bayang masa lalu..
BalasHapusSelamat untuk puisinya, dan SEMANGAT yaa!
inilah proses hidup, hingga saat ini saya menikmati semua rasa yang tuhan beri pada saya, ini hidup bukan :)
BalasHapusCi....
BalasHapuspuisinya kereeen....
:D
b('^3^)d